𝑀𝒶𝓃𝓊𝓈𝒾𝒶 𝒹𝒶𝓃 𝐼𝓁𝓂𝓊 𝒫𝑒𝓃𝑔𝑒𝓉𝒶𝒽𝓊𝒶𝓃
Sejak manusia
lahir ke dunia, mereka sebenarnya telah memiliki ilmu pengetahuan untuk
bertahan hidup dari generasi ke generasi. Pada masa lampau, pemahaman tentang
keilmuaan memang sangat terbatas hingga mulai berkembang dari waktu-kewaktu.
Perkembangan ilmu pengetahuan tersebut bersumber dari seperangkat alat deteksi (panca indera) yang tercipta pada diri manusia, berupa akal pikiran untuk mengkaji dan
melakukan riset; begitu juga dengan mata hati dan perasaan untuk merespons, menaggapi,
menilai, memilih, dan melahirkan keputusan yang tepat.
Sejarah
perjalanan ilmu pengetahuan mulai dari klasik hingga kontemporer yang tercatat,
ternyata masih banyak temuan ilmuan yang tidak dapat terjawab secara tuntas
karena keterbatasan ilmu pengetahuan, metodologi, dan tentunya keterbatasan
manusia itu sendiri. Maka dari itu ilmu bersifat terbatas; terbatas pada
subjek, objek, serta metodologinya sendiri.
Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kehadiran filsafat ilmu menjadi penilai terhadap ilmu-ilmu yang berkembang guna mencapai kebenaran. Namun, tidak semua masalah yang tidak atau belum terjawab oleh ilmu lantas dengan sendirinya terjawab dengan filsafat. Jawaban filafat sifatnya spekulatif dan alternative dari suatu permasalahan yang asasi. Bisa saja dalam satu masalah akan terlahir berbagai jawaban karena manusia bertolak pada latar berpikir masing-masing.
Komentar